Bromo Sky Bridge Hadir, Wisata Adrenalin Baru di Kawasan Penyangga Gunung Bromo

  

SOFT LAUNCHING: Sejumlah warga menikmati sensasi jalan di jembatan kaca Bromo. (photo by radar bromo)


BROMO- Destinasi wisata baru di kawasan penyangga Gunung Bromo, Bromo Sky Bridge, resmi dibuka untuk umum pada Sabtu (27/6). Kehadiran jembatan kaca tersebut langsung menarik perhatian masyarakat dan wisatawan yang sedang berkunjung ke kawasan Bromo. Sejak hari pertama beroperasi, lokasi ini dipadati pengunjung yang ingin merasakan pengalaman berjalan di atas jembatan kaca sambil menikmati panorama megah Kaldera Bromo dari ketinggian.

Presiden Direktur The Lawu Grup, Parmin Sastro, mengatakan bahwa pembangunan Bromo Sky Bridge tidak hanya bertujuan menambah pilihan destinasi wisata di kawasan Bromo, tetapi juga diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar melalui peningkatan sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

Menurutnya, pengembangan destinasi wisata harus mampu menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan sekaligus menciptakan manfaat bagi pelaku usaha dan warga di sekitar kawasan wisata.

"Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membangun destinasi wisata yang memberikan pengalaman berbeda dan meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pengunjung. Kami juga berharap mendapat doa dan dukungan agar wisata ini terus berkembang," ujarnya.

Parmin menjelaskan bahwa Bromo Sky Bridge mengusung konsep wisata adrenalin yang berbeda dengan destinasi lain di kawasan Bromo. Pengunjung dapat menikmati keindahan bentang alam dari sudut pandang baru melalui jembatan kaca yang membentang di atas lembah dengan sensasi berjalan di atas ketinggian.

Jembatan kaca tersebut memiliki panjang sekitar 120 meter dan berada di ketinggian kurang lebih 100 meter dari permukaan tanah. Dengan karakteristik tersebut, Bromo Sky Bridge diklaim sebagai salah satu jembatan kaca tertinggi di Indonesia yang menawarkan perpaduan antara wisata alam dan tantangan bagi para pencinta adrenalin.

"Ini memang destinasi wisata yang dirancang khusus bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi berbeda. Saat berjalan di atas jembatan, pengunjung dapat menikmati panorama pegunungan dan Kaldera Bromo dari ketinggian yang memacu adrenalin," jelasnya.

Untuk menikmati wahana ini, pengelola menetapkan tarif masuk sebesar Rp55 ribu bagi wisatawan domestik dan Rp110 ribu untuk wisatawan mancanegara. Menurut Parmin, harga tersebut masih tergolong kompetitif apabila dibandingkan dengan sejumlah destinasi jembatan kaca serupa di Bali maupun di China.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha, menilai kehadiran Bromo Sky Bridge dapat membantu mendistribusikan arus wisatawan yang selama ini terkonsentrasi di beberapa titik favorit untuk menikmati matahari terbit.

Ia menjelaskan bahwa selama ini kepadatan wisatawan kerap terjadi di lokasi-lokasi sunrise seperti Penanjakan dan Bukit Kingkong. Dengan adanya alternatif baru berupa jembatan kaca, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan untuk menikmati panorama Bromo sehingga potensi kemacetan maupun penumpukan pengunjung dapat dikurangi.

"Ke depan wisatawan tidak hanya menikmati matahari terbit dari satu lokasi, tetapi juga dapat menikmati pemandangan dari jembatan kaca. Hal ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan di titik-titik tertentu," katanya.

Antusiasme masyarakat terhadap destinasi baru ini terlihat sejak hari pertama pembukaan. Banyak wisatawan rela mengantre untuk mencoba berjalan di atas lantai kaca sambil mengabadikan momen dengan latar belakang bentangan Kaldera Bromo yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Di sisi lain, tingginya jumlah pengunjung juga menjadi ujian awal bagi pengelola dalam menerapkan sistem pengelolaan serta standar keselamatan. Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan, sejumlah aturan diberlakukan secara ketat.

Setiap pengunjung diwajibkan mengenakan pelindung alas kaki (shoe cover) sebelum memasuki area jembatan guna menjaga kualitas kaca. Anak-anak harus selalu berada dalam pengawasan orang tua selama berada di atas jembatan. Selain itu, kapasitas pengunjung dibatasi hanya sekitar 30 hingga 40 orang dalam satu waktu agar beban tetap sesuai standar keamanan.

Pengelola juga melarang berbagai aktivitas yang berpotensi membahayakan, seperti berlari, melompat, mengguncang jembatan, duduk di lantai kaca, maupun memanjat pagar pembatas.

Salah seorang wisatawan asal Blitar, Siti Mukarromah (55), mengaku sengaja mencoba wahana tersebut saat berlibur bersama keluarganya di Bromo. Meski memiliki rasa takut terhadap ketinggian, ia tetap memberanikan diri untuk berjalan di atas jembatan kaca.

"Kebetulan kami sedang berlibur di Bromo, lalu mengetahui ada wisata baru yang baru dibuka. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba," ujarnya.

Siti mengaku pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri karena dapat menikmati panorama alam yang indah dari sudut pandang yang berbeda. Namun demikian, ia berharap ke depan tersedia tambahan fasilitas berupa jaring pengaman di bawah jembatan agar pengunjung yang memiliki ketakutan terhadap ketinggian merasa lebih nyaman.

"Menurut saya, kalau ada jaring pengaman di bawah jembatan mungkin pengunjung yang takut ketinggian akan lebih tenang. Semoga ke depan semakin banyak inovasi wisata di sekitar Bromo sehingga wisatawan selalu tertarik untuk kembali berkunjung," katanya.

Hal senada disampaikan Yoga (28), wisatawan asal Bondowoso. Ia mengaku penasaran setelah melihat informasi mengenai pembukaan Bromo Sky Bridge saat sedang berwisata di kawasan Bromo.

"Saya memang sedang jalan-jalan ke Bromo. Setelah melihat ada jembatan kaca yang baru dibuka, saya langsung tertarik untuk mencobanya," tuturnya.

Sementara itu, Yana (38), wisatawan asal Kediri yang mengaku memiliki fobia terhadap ketinggian, tetap berusaha menikmati pengalaman tersebut meski tidak berani berjalan hingga ke bagian tengah jembatan.

"Saya memang takut ketinggian, jadi hanya berjalan sampai sebagian saja. Meski begitu, menurut saya tempatnya sangat menarik dan pemandangannya luar biasa indah," ungkapnya.

Kehadiran Bromo Sky Bridge diharapkan semakin memperkaya pilihan destinasi wisata di kawasan penyangga Gunung Bromo. Selain menawarkan pengalaman baru yang memadukan panorama alam dan sensasi adrenalin, keberadaan wahana ini juga diharapkan mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan, memperkuat ekonomi masyarakat sekitar, serta mendukung pemerataan kunjungan wisata di kawasan Bromo.(red/lis)