Tradisi Manusuk Sima di Taman Tirtayasa, Napak Tilas Lahirnya Kota Kediri

MANUSUK SIMA - Pemerintah Kota Kediri kembali menggelar Upacara Tradisi Manusuk Sima sebagai puncak peringatan Hari Jadi Kota Kediri ke-1.147, Senin (27/7/2026). Tahun ini, prosesi sakral tersebut kembali dilaksanakan di Taman Tirtayasa (by tribunjatim.com)



KEDIRI
– Pemerintah Kota Kediri kembali menggelar tradisi Manusuk Sima sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Kediri ke-1.147. Prosesi budaya yang berlangsung di kawasan Taman Tirtayasa tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah panjang berdirinya Kota Kediri sekaligus upaya menjaga warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi Manusuk Sima merupakan kegiatan yang memiliki nilai historis karena berkaitan dengan penetapan tanah sima atau tanah perdikan yang menjadi salah satu dasar sejarah lahirnya Kota Kediri. Prosesi ini merujuk pada keberadaan Prasasti Kwak yang mencatat penetapan wilayah Kuwak pada 27 Juli 879 Masehi, yang kemudian menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kota Kediri. 

Pelaksanaan Manusuk Sima tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana mengenang perjalanan sejarah Kota Kediri sejak masa kerajaan. Melalui ritual tersebut, masyarakat diajak untuk memahami bahwa perkembangan Kota Kediri saat ini tidak terlepas dari perjalanan panjang peradaban yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun. 

Pada pelaksanaan tahun ini, prosesi Manusuk Sima kembali digelar di Taman Tirtayasa setelah sebelumnya sempat dilaksanakan di lokasi lain. Pemilihan tempat tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah karena kawasan Tirtayasa berada dalam rangkaian cerita perkembangan wilayah Kuwak yang menjadi bagian penting dalam sejarah awal Kota Kediri. 

Rangkaian acara berlangsung dengan nuansa budaya Jawa yang kental. Suasana sakral semakin terasa melalui iringan doa, tabuhan gamelan, serta berbagai prosesi adat yang menggambarkan penghormatan terhadap leluhur dan sejarah daerah. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan simbolisasi pengukuhan nilai sejarah melalui rangkaian acara yang melibatkan unsur pemerintah, tokoh masyarakat, serta pelaku seni budaya. 

Pemerintah Kota Kediri menilai pelestarian tradisi Manusuk Sima menjadi bagian penting dalam menjaga identitas daerah di tengah perkembangan zaman. Tradisi tersebut tidak hanya mengenalkan sejarah kepada generasi muda, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap budaya lokal yang menjadi ciri khas Kota Kediri. 

Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap masa lalu, kegiatan Manusuk Sima juga menjadi momentum refleksi bagi masyarakat Kota Kediri untuk terus membangun daerah dengan tetap berpegang pada nilai sejarah dan budaya. Perjalanan panjang Kota Kediri yang telah melewati berbagai masa diharapkan menjadi inspirasi dalam menghadapi tantangan pembangunan ke depan.

Dengan terselenggaranya tradisi Manusuk Sima dalam peringatan Hari Jadi ke-1.147, Kota Kediri kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat peninggalan sejarah. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari perkembangan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya menjaga akar budaya dan sejarah. (red/lis)