LAMPUNG- Kabar duka menyelimuti dunia konservasi satwa Indonesia. Salah satu gajah jinak paling berpengalaman di Taman Nasional Way Kambas, yaitu Gajah Indra, dilaporkan mati setelah bertahun-tahun berjuang melawan dampak cedera serius yang dialaminya sejak 2017. Kepergian gajah jantan berusia 42 tahun ini menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi para pengelola taman nasional, tetapi juga bagi upaya pelestarian Gajah Sumatera di Indonesia.
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD Zaidi, menyampaikan bahwa Indra merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam sejarah konservasi Gajah Sumatera. Selama puluhan tahun, Indra tidak hanya menjadi satwa binaan, tetapi juga menjadi mitra kerja yang membantu berbagai kegiatan perlindungan dan penyelamatan satwa liar.
Indra mulai bergabung dengan Pusat Latihan Gajah Way Kambas pada tahun 1995. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai gajah terlatih yang andal dan sering dilibatkan dalam berbagai tugas lapangan. Perannya mencakup patroli kawasan hutan, membantu evakuasi gajah liar yang memasuki permukiman warga, hingga mendukung upaya mitigasi konflik antara manusia dan satwa yang kerap terjadi di sejumlah wilayah di Lampung.
Namun, perjalanan panjang pengabdiannya mengalami titik balik pada akhir 2017. Saat itu, kendaraan yang mengangkut Indra usai menjalankan tugas penanganan konflik satwa di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan mengalami kecelakaan lalu lintas. Insiden tersebut menyebabkan Indra mengalami cedera serius yang diduga terjadi pada bagian tulang belakang.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa cedera tersebut berdampak signifikan terhadap kemampuan gerak dan kondisi fisiknya. Sejak kecelakaan itu, Indra tidak lagi ditugaskan ke lapangan dan resmi dipensiunkan dari seluruh aktivitas operasional. Tim dokter hewan kemudian memberikan perawatan intensif, terapi rutin, serta pemantauan kesehatan secara berkala untuk menjaga kualitas hidupnya.
Meski mendapatkan perhatian dan penanganan terbaik, kondisi fisik Indra terus mengalami penurunan seiring bertambahnya usia dan dampak jangka panjang dari cedera yang dideritanya. Puncak kondisi kritis terjadi pada Minggu sore, 21 Juni 2026. Setelah menjalani aktivitas mandi rutin di area rawa, Indra tiba-tiba ambruk ketika hendak kembali ke kandangnya dan tidak mampu berdiri kembali.
Tim penyelamat yang terdiri dari dokter hewan, mahout, serta sejumlah gajah jinak lainnya segera berupaya memberikan pertolongan. Berbagai langkah dilakukan untuk membantu Indra bangkit dan mempertahankan kondisinya. Namun, setelah bertahan selama lebih dari 20 jam dalam keadaan kritis, Indra akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Senin, 22 Juni 2026, pukul 11.06 WIB.
Untuk memastikan penyebab pasti kematiannya, pihak Balai TNWK melakukan nekropsi atau bedah bangkai yang disaksikan oleh unsur kepolisian, TNI, dan Polisi Kehutanan. Sejumlah sampel organ diambil untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium guna memperoleh hasil yang lebih akurat terkait kondisi kesehatan Indra sebelum meninggal.
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas jasa dan pengabdiannya, jenazah Gajah Indra dimakamkan di area khusus yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Way Kambas. Kepergian Indra meninggalkan duka mendalam bagi para mahout, dokter hewan, serta seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam upaya pelestarian Gajah Sumatera. Dedikasi dan kontribusinya selama lebih dari tiga dekade akan selalu dikenang sebagai bagian penting dari sejarah konservasi satwa liar Indonesia.(red/lis)